Wawancara Eksklusif: Menyelami Kultur Riset Global Bersama Sandi Ferdiansyah, Dosen FTIK UIN KHAS Jember sekaligus Reviewer Jurnal Scopus
Media Center FTIK - Meningkatkan mutu publikasi ilmiah hingga menembus indeksasi global seperti Scopus dan Web of Science (WoS) menjadi salah satu pilar krusial dalam internasionalisasi perguruan tinggi keagamaan Islam. FTIK UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember memiliki salah satu aset akademik potensial dalam disiplin ini, yaitu Sandi Ferdiansyah, M.Pd.. Ia merupakan Dosen Tetap PNS pada Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI).
Dosen asal Banyuwangi, Jawa Timur ini tercatat telah mempublikasikan 21 artikel ilmiah terindeks global (Scopus/WoS) dalam rentang tahun 2018–2026. Di samping produktif menulis, ia juga aktif sebagai mitra bestari (peer-reviewer) resmi pada sejumlah jurnal internasional bereputasi tinggi di bawah naungan penerbit global, Taylor & Francis. Saat ini, Sandi tengah menempuh studi doktoral di Macquarie School of Education, Macquarie University (MQ), Sydney, Australia—sebuah institusi yang konsisten berada dalam jajaran 10 perguruan tinggi terbaik di Australia.
Tim Data dan Informasi (Datinfo) FTIK UIN KHAS Jember berkesempatan melakukan wawancara mendalam secara daring dengan Sandi Ferdiansyah guna menggali pengalaman, manajemen riset, serta proses kreatifnya di dunia akademik internasional. Berikut adalah transkrip lengkap wawancara tersebut:
Datinfo FTIK: Bisa diceritakan terlebih dahulu mengenai aktivitas mengajar Anda di Prodi TBI UIN KHAS Jember dan bagaimana keterkaitannya dengan bidang keahlian yang Anda tekuni saat ini?
Sandi Ferdiansyah: "Di prodi TBI, saya biasanya mengampu rumpun mata kuliah reading (membaca). Antara lain Intensive Reading, yang difokuskan pada bagaimana mahasiswa membangun keterampilan memahami bacaan secara mendalam; Extensive Reading, untuk mendorong mahasiswa membangun minat membaca teks panjang; serta Academic Reading, yang bertujuan membangun keterampilan membaca dalam konteks dan diskursus akademik".
"Mata kuliah tersebut linier dengan minat akademik utama saya, yaitu pengembangan literasi multimodal melalui penciptaan cerita digital (digital storytelling). Saat ini, riset-riset saya berfokus pada pemaknaan multimodal pada cerita digital yang bertemakan pembelajaran antarbudaya. Selain itu, saya juga tertarik pada pengembangan profesi guru Bahasa Inggris melalui penelitian tindakan eksploratori yang menekankan pada voice (suara) dan pengalaman belajar siswa".
Datinfo FTIK: Dari 21 artikel global yang telah Anda terbitkan sejak 2018 hingga 2026, manakah judul riset yang Anda anggap paling monumental?
Sandi Ferdiansyah: "Jika beberapa orang memaknai 'monumental' sebagai karya yang memberikan dampak besar dan disitasi oleh banyak makalah, saya pribadi memilih memaknainya dari perspektif historis dan keajegan (konsistensi). Secara historis, saya memilih artikel saya yang berjudul "Collaborative narrative writing: Digital photography tasks in an Indonesian Islamic secondary school"".
"Ada dua alasan utama. Pertama, artikel ini adalah karya pertama saya yang berhasil menembus dan terbit di jurnal internasional terindeks Scopus pada tahun 2018. Artikel inilah yang membentuk identitas saya sebagai penulis dan menumbuhkan agency saya sebagai pendidik. Kedua, saya memaknainya sangat monumental karena dalam prosesnya, artikel ini disunting langsung oleh beberapa pakar kenamaan dunia di bidang pendidikan Bahasa Inggris, antara lain Handoyo Puji Widodo, Michelle Picard, John Macalister, dan Angel M. Y. Lin".
Datinfo FTIK: Selain menjadi penulis, Anda juga dipercaya menjadi reviewer resmi di jurnal-jurnal internasional bereputasi. Jurnal apa saja yang saat ini aktif melibatkan Anda?
Sandi Ferdiansyah: "Sejak tahun 2021 hingga saat ini, saya masih dipercaya menjadi peer-reviewer aktif pada Journal of Reflective Practice yang diterbitkan oleh Taylor & Francis. Selain itu, dalam kurun waktu lima bulan terakhir, saya juga menerima dan menyelesaikan undangan untuk mereviu manuskrip dari Journal of Interactive Learning Environments serta Journal of Diaspora, Indigenous and Minority Education, yang keduanya juga berada di bawah naungan penerbit global Taylor & Francis. Saya juga memiliki kontribusi pada jurnal-jurnal ternama lainnya seperti Computer Assisted Language Learning, Educational Studies, TESOL Journal, Journal of Second Language Studies, hingga Behaviour & Information Technology".
Datinfo FTIK: Bagaimana awal mulanya Anda bisa dilirik dan dipercaya oleh dewan redaksi jurnal internasional luar negeri tersebut untuk menjadi seorang mitra bestari?
Sandi Ferdiansyah: "Berdasarkan pengalaman saya, dewan redaktur (editor in chief) sebuah jurnal bereputasi akan menghubungi calon mitra-bestari sejawat berdasarkan rekam jejak publikasi (publication track record) yang spesifik. Sebagai contoh, saya diundang oleh Journal of Reflective Practice karena saya pernah menulis bab buku tentang refleksi calon guru dalam konteks praktik mengajar yang diterbitkan oleh Routledge pada tahun 2018".
"Selain itu, beberapa riset saya selanjutnya secara konsisten berfokus pada peran praktik reflektif calon guru melalui metode Photovoice. Konsistensi topik inilah yang membuat editor percaya terhadap kapasitas, pengalaman menulis, serta kompetensi meneliti saya di bidang tersebut".
Datinfo FTIK: Bagaimana Anda membagi waktu antara kewajiban mengajar, membimbing mahasiswa, menulis artikel pribadi, dan di saat yang sama mereviu artikel ilmuwan lain?
Sandi Ferdiansyah: "Prinsip hilirisasi riset saya sebetulnya sederhana: riset saya adalah praktik pembelajaran saya sendiri di dalam kelas. Jadi, saya memanfaatkan data otentik dari kelas yang saya ajar, lalu data tersebut saya analisis dan tuliskan menjadi artikel. Artikel itu kemudian saya kembalikan lagi ke kelas untuk digunakan sebagai rujukan mahasiswa dalam pembelajaran. Dengan pola ini, siklus mengajar, meneliti, dan menulis sudah menyatu menjadi bagian dari waktu keseharian saya".
"Sementara untuk aktivitas mereviu manuskrip penulis lain, saya memanfaatkan waktu luang di luar jam kerja. Bagi saya, membaca dan menelaah karya orang lain adalah ruang untuk belajar hal-hal baru, mengasah keterampilan berpikir kritis, sekaligus bagian dari bentuk pengabdian saya pada masyarakat ilmiah global".
Datinfo FTIK: Saat ini Anda sedang menempuh studi doktoral di Macquarie University, Australia. Apakah ada atmosfer akademik di sana yang menurut Anda menarik dan bisa diadaptasi di tanah air?
Sandi Ferdiansyah: "Di Macquarie School of Education, beberapa pelatihan tentang riset diberikan secara intensif kepada mahasiswa pascasarjana untuk mendukung proses penelitian mereka, misalnya pelatihan menulis akademik (academic writing) dan desain riset".
"Namun, salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah kewajiban mengurus etik atau izin penelitian (ethical clearance). Proses ini dilakukan untuk memastikan bahwa riset yang akan kami lakukan benar-benar layak secara etik. Di sana dinilai secara ketat, misalnya, bagaimana proses rekrutmen partisipan dilakukan agar benar-benar bebas dari relasi kuasa antara peneliti dan subjek yang diteliti. Perlindungan terhadap hak-hak partisipan riset sangat dijunjung tinggi".
Datinfo FTIK: Apa target atau target akademik terdekat yang ingin Anda capai dalam waktu dekat ini?
Sandi Ferdiansyah: "Dalam jangka pendek ini, fokus utama saya tentu menyelesaikan agenda riset doktoral di Australia. Karena saya memilih jalur Dissertation by Publication (Disertasi berbasis Publikasi), target konkret saya adalah menerbitkan 4 artikel ilmiah terindeks Scopus Q1 selama masa studi sebagai persyaratan kelulusan utama".
Datinfo FTIK: Terakhir, adakah pesan atau tips praktis bagi rekan sejawat dosen maupun mahasiswa di lingkungan UIN KHAS Jember agar memiliki keberanian untuk menulis di jurnal internasional bereputasi?
Sandi Ferdiansyah: "Pesan saya, jangan langsung menargetkan jurnal terindeks Scopus di awal karier menulis. Saya sendiri tidak memulai aktivitas menulis langsung di jurnal Scopus. Saya ingat betul, tulisan-tulisan pertama saya dimulai dari prosiding konferensi pada tahun 2015 hingga 2016. Setelah itu, saya beralih menulis artikel-artikel pendek populer untuk mengasah kelancaran, ritme, dan gaya menulis".
"Setelah saya merasa memiliki rasa percaya diri yang cukup dan format berpikir ilmiah saya sudah terbentuk, baru saya memberanikan diri membidik target menulis pada jurnal bereputasi internasional. Kuncinya adalah berproses, membangun rasa percaya diri, dan menjaga konsistensi".
Datinfo FTIK: Terima kasih atas waktu dan bincang-bincang inspiratifnya, Pak Sandi. Selamat melanjutkan studi dan risetnya di Australia.
Sandi Ferdiansyah: "Terima kasih kembali, salam hangat untuk seluruh civitas akademika FTIK UIN KHAS Jember".
(ERD/Tim Data dan Informasi)



